The Kompetensi Pragmatik Chatbot AI Bahasa Indonesia
Analisis Tincak Tutur, Kesantunan, dan Implikatur Percakapan pada ChatGPT, Gemini, dan Grok
Keywords:
Chatbot Ai, Pragmatik Digital, Tindak Tutur, Kesantunan, ImplikaturAbstract
Adopsi chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)di Indonesia telah menciptakan ekosistem komunikasi manusia-mesin yang menuntut kompetensi pragmatik tinggi, namun kajian mengenai kapasitas sistem AI generatif dalam lanskap sosiolinguistik lokal masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kompetensi pragmatik komparatif dari ChatGPT, Gemini, dan Grok melalui analisis tindak tutur, strategi kesantunan, dan implikatur percakapan berbahasa Indonesia. Menggunakan metode Pragmatik Eksperimental, studi kualitatif ini menganalisis 69 unit respons yang diperoleh dari 23 prompt terstruktur. Stimulus tersebut mencakup kluster tindak tutur (asertif, direktif, komisif, ekspresif), pengelolaan ancaman muka (face-threatening acts), serta inferensi implikatur ironis. Data dianalisis secara terintegrasi menggunakan sintesis teori tindak tutur, kesantunan, dan maksim kooperatif, dengan uji reliabilitas antarpenilai berbasis koefisien Cohen's kappa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ketiga platform menampilkan kompetensi fungsional pada tingkat permukaan, ketiganya memiliki orientasi komunikatif yang kontras: ChatGPT unggul dalam efisiensi berbasis tugas (task-oriented), Gemini unggul dalam pengenalan implikatur namun mengalami deviasi sistematis berupa over-informativeness (exploratory-oriented), sedangkan Grok paling responsif terhadap penanda sosio-pragmatik lokal melalui akomodasi register informal (interpersonal-oriented). Temuan ini membuktikan bahwa kompetensi pragmatik AI bersifat multidimensional dan menyingkap adanya celah representasi budaya pada sistem global. Implikasi praktis dari studi ini mendesak integrasi eksplisit penanda sosio-pragmatik khas bahasa Indonesia dalam tahap fine-tuning model untuk menciptakan teknologi asisten virtual yang berterima secara kultural.

